you are a mistery
you almost missed in a mist
you love the rain and dislike the sun
but you keep the light and leave that falling water
you are more beautiful than the beauty
the beauty of relativity
the relativity of a fool
though you are still beautiful
I just can stand
warn myself to not keep more
cause the more I keep the more I lose
but it is just a matter of time
you are too special than others
others who only search for happiness
others who only try to find a world
but you have got them on your own
you only recognize your far side
you don't know if you talk to your love
right in front of you
9.10.2008
9.09.2008
Lecutan Almamater
Masih seperti ancaman kalau jika sarjana nanti masih seperti ini. Ancaman sperti hanya akan selesai menuntut ilmu di Institut gajah hanya membawa ijazah tanpa kemampuan sebagai mana mestinya seorang sarjana. Bayangkan saja, sampai saat ini aku telah mengikuti beberapa mata kuliah yang telah lulus dengan nilai yang cukup memuaskan bagi seseorang yang tidak mengerti esensi kuliah yang telah diambil. Mekatron, aku beruntung telah lulus karena dengan keberuntunganku tersebut telah mengakibatkan ujian-ujian Mekatron mirip bahkan ada soal yang sama dengan pr-pr yang telah diberikan. Aku lulus cukup dengan menguasai pr-pr tersebut. Sekarang aku malu kalau ditanya mengenai mekatron, karena memang dari awalnya kau tidak terlalu mengerti dengan mata kuliah ini. Terkadang nilai yang aku dapat dari mata kuliah ini terasa yang pintar dari pada aku sendiri. Anum aka Analisis Numerik, aku hanya menyontek semua pr yang diberikan dan betapa beruntungnya aku ketika UAS, soal yang tertera di lembar pertanyaan UAS sama persis dengan beberapa halaman saja yang aku pelajari dari buku Chapra. Itupun aku membacanya H-4 UAS, H alias hour bukan hari. Dan beberapa mata kuliah lain yang aku rasa indeks nilainya lebih cerdas dari pada kepintaranku menangkap maksud dari mata kuliah itu.
Aku sadar aku akan terjun ke dunia keprofesian, aku sadar aku belum jadi apa-apa walupun sekrang aku telah tingkat tiga dan beberapa bulan ke depan aku akan Kerja Praktek. Apa aku harus menunggu lecutan almamater ketika terjun ke dunia keprofesian nanti? Apakah aku harus mulai bekerja keras ketika mereka meremehkanku yang merupakan tamatan sebuah institute teknik ternama di negeri ini? Seharusnya itu tidak perlu terjadi. Namun terkadang anggapan bahwa IP tinggi menjadi dosen, IP menengah menjadi pegawai dan IP rendah menjadi pengusaha menggoyahkanku. Sekarang aku termasuk dalam indeks kisaran sebuah pegawai. Seorang sarjana tidak membawa IP telah aku rasakan ketika tes untuk magang di salah satu Oil Service Company. IP hanya untuk formalitas agar lulus administrasi. Lebih bijak kalau mengadili seorang sarjana tamat dengan membawa ilmu yang dengan susah payah ia timba selama bangku perguruan tinggi. Namun hanya IP lah bukti otentik seorang mahasiswa mempertanggungjawabkan akademisnya di depan orang tuanya, di depan instansi yang membeasiswainya, dan di depan orang yang bertanya “Berapa IP lu?”.
Namun (hampir) semua mahasiswa tahu bahwa masih ada sebuah kompetensi yang harus dikuasai selama mengenyam bangku perkuliahan. Softkill. Kemampuan berkomunikasi dan berorganisasi merupakan salah satu syarat mutlak untuk stabil di dunia keprofesian kelak. Sepintar apapun seseorang apabila ia tidak bisa mengkomunikasikan kepintarannya maka semuanya akan terbuang sia-sia. Zaman sekarang adalah zaman membagi ilmu. Bukan zaman merebut ilmu. Hanya dari semua kompetensi tersebut aku masih bertanya-tanya apakah aku sudah berada dalam jalur seorang sarjana yang semestinya? Apakah aku hanya sadar tanpa punya andil untuk bergerak memperbaiki kekurangan yang ada untuk menjadi seorang sarjana? Apa aku harus menunggu untuk dipermalukan agar kemampuanku yang sebenarnya mekar?
Rata-rata sarjana Ganesha menjadi handal dengan rasa malu. Menjadi handal ketika almamternya dipertanyakan. Apakah aku termasuk golongan itu kelak? Bagaimana dengan kalian?
Aku sadar aku akan terjun ke dunia keprofesian, aku sadar aku belum jadi apa-apa walupun sekrang aku telah tingkat tiga dan beberapa bulan ke depan aku akan Kerja Praktek. Apa aku harus menunggu lecutan almamater ketika terjun ke dunia keprofesian nanti? Apakah aku harus mulai bekerja keras ketika mereka meremehkanku yang merupakan tamatan sebuah institute teknik ternama di negeri ini? Seharusnya itu tidak perlu terjadi. Namun terkadang anggapan bahwa IP tinggi menjadi dosen, IP menengah menjadi pegawai dan IP rendah menjadi pengusaha menggoyahkanku. Sekarang aku termasuk dalam indeks kisaran sebuah pegawai. Seorang sarjana tidak membawa IP telah aku rasakan ketika tes untuk magang di salah satu Oil Service Company. IP hanya untuk formalitas agar lulus administrasi. Lebih bijak kalau mengadili seorang sarjana tamat dengan membawa ilmu yang dengan susah payah ia timba selama bangku perguruan tinggi. Namun hanya IP lah bukti otentik seorang mahasiswa mempertanggungjawabkan akademisnya di depan orang tuanya, di depan instansi yang membeasiswainya, dan di depan orang yang bertanya “Berapa IP lu?”.
Namun (hampir) semua mahasiswa tahu bahwa masih ada sebuah kompetensi yang harus dikuasai selama mengenyam bangku perkuliahan. Softkill. Kemampuan berkomunikasi dan berorganisasi merupakan salah satu syarat mutlak untuk stabil di dunia keprofesian kelak. Sepintar apapun seseorang apabila ia tidak bisa mengkomunikasikan kepintarannya maka semuanya akan terbuang sia-sia. Zaman sekarang adalah zaman membagi ilmu. Bukan zaman merebut ilmu. Hanya dari semua kompetensi tersebut aku masih bertanya-tanya apakah aku sudah berada dalam jalur seorang sarjana yang semestinya? Apakah aku hanya sadar tanpa punya andil untuk bergerak memperbaiki kekurangan yang ada untuk menjadi seorang sarjana? Apa aku harus menunggu untuk dipermalukan agar kemampuanku yang sebenarnya mekar?
Rata-rata sarjana Ganesha menjadi handal dengan rasa malu. Menjadi handal ketika almamternya dipertanyakan. Apakah aku termasuk golongan itu kelak? Bagaimana dengan kalian?
9.06.2008
Quasi Stellar
just a joke for one's prediction
you're actually the crowd of your own silence
even no love and no rain
it ain't a nightmare of being alone
you're always the beauty for your own mirror
the more you hope
what the rainbow decided
just the eye of thank
no need to turn black
no need to run off
no need to blame your heart
you only need a piece of pride
can you imagine the heaven?
it cried for you everytime
till you find yourself behind you yourself
cause everything is made so shinny as a star
even the shadows
seize what are on your hand
they'll help you someday
when the world will be being a parasite
for the ones who betray it
for the ones who leave it
you better denying the rain ringing
than just covering your ears from the song of the world
why did they always jump over the stars?
why did they have a lot unanswered question?
why didn't they just look at the stars?
and focus on the stars those entertain every night
without any unanswered question they brought
you, you live long like a stellar
a big star that share every happiness,
a big star that protect every sadness of a universe
you're actually the crowd of your own silence
even no love and no rain
it ain't a nightmare of being alone
you're always the beauty for your own mirror
the more you hope
what the rainbow decided
just the eye of thank
no need to turn black
no need to run off
no need to blame your heart
you only need a piece of pride
can you imagine the heaven?
it cried for you everytime
till you find yourself behind you yourself
cause everything is made so shinny as a star
even the shadows
seize what are on your hand
they'll help you someday
when the world will be being a parasite
for the ones who betray it
for the ones who leave it
you better denying the rain ringing
than just covering your ears from the song of the world
why did they always jump over the stars?
why did they have a lot unanswered question?
why didn't they just look at the stars?
and focus on the stars those entertain every night
without any unanswered question they brought
you, you live long like a stellar
a big star that share every happiness,
a big star that protect every sadness of a universe
9.05.2008
Bukan Rejeki
Semua berawal dari gak bisa ngerjain tes awal pas praktikum Matrek, padahal persiapan buat praktikum udah oke banget. Fotokopi Dieter walaupun cuma bab uji keras doank, trus nanya temen yang udah praktikum kalau praktikum uji keras gimana, udah nurunin rumus Brinell ma Vickers, udah baca berkali-kali bahan buat praktikum. Kenapa ya? Apa gugup karena udah setaun gak praktikum? Gak juga sih, soalnya, praktikum kan gak serem-tegang-mpe-berkeringet gitu kan kondisinya. Malah tadi praktikum dapet asisten yang baek lagi, gak bawel-resek gitu. Kenapa ya?
Tapi bukan karena gak bisa ngapa-ngapain pas praktikum yang jadi ‘sial-of-the-month’ kali ini. Pas lagi presentasi tes awal, hp aku getar-getar terus. Dengan rada sedikit kesel mengingat lagi praktikum, aku liat sipa yang nelpon. Ternyata no im3 yang g ada di phone book. Aku biarain. Eh, dya nelpon lagi, terus aku biarin lagi. Terus lagi, dan aku biarin lagi. Akhirnya dengan rasa penasara, aku sms tu orang yang nelpon-nelpon tadi. Ternyata si Vani –sorry, namanya emang nama cewe, tapi dya cowo-, dengan rada bingung aku hanya iya-iya aja kalo Vani nelpon.
Udah sejam lebih dengan presentasi tes awal dan ngamplas benda uji, langsunglah aku plus temen-temen satu kelompok ke alat uji. Pas lagi kebagian handle material uji baja karbon rendah dan pas lagi uji kekerasan brinell, ada yang nelpon lagi. Paling si Vani lagi. Aku diemin aja. Terus hp-ku getar lagi. Aku liat. Ternyata nomor g dikenal lagi, 022251xxx gitu. Ni siapa ya? Ya uadah males mikirinnya.
Stelah abis praktikum uji keras yang notabenenya praktikum paling lama dia natara praktikum yang lain, aku baru inget kalo kemaren aku ngedaftar buat jadi asisten MKM. Ternyata yang nomernya 022251xxx itu si dosen yang ngasi tau kalo aku harus dating briefing buat jadi asisten MKM hari itu juga, jam itu juga. Yanh mana aku tau kalo yang nelpon dia. Sambil jalan ke depan gedung Mesin, aku coba nelpon balik nomer itu. Eh aku ketemu Gustavo yang tampangnya lagi kesel-kesel gitu. Ternyata nasibnya sama ama aku. Rupanya gara-gara gak bisa ikutan briefing jadi asisten karena lagi praktikum, aku didepak jadi asisten dan diganti sama orang lain. Gimana gak kesel. Gak bisa ikutan briefingnya bukan karena alasan yang gak jelas, TAPI LAGI PRAKTIKUM! Parah banget!
‘maaf mas, mas emang sangat berpeluang menjadi asisten tetapi gak datang briefing 15 menit yang lalu. Baru aja mas digantiin….’
Wah parah banget, kesel ni. Udah ilang pengalaman jadi asisten, ilang kesempatan nulis di CV pernah jadi asisten terus ilang kesempatan buat dapetin uang jajan! Alasannya norak lagi. LAGI PRAKTIKUM! Emang gak rejeki…
Tapi bukan karena gak bisa ngapa-ngapain pas praktikum yang jadi ‘sial-of-the-month’ kali ini. Pas lagi presentasi tes awal, hp aku getar-getar terus. Dengan rada sedikit kesel mengingat lagi praktikum, aku liat sipa yang nelpon. Ternyata no im3 yang g ada di phone book. Aku biarain. Eh, dya nelpon lagi, terus aku biarin lagi. Terus lagi, dan aku biarin lagi. Akhirnya dengan rasa penasara, aku sms tu orang yang nelpon-nelpon tadi. Ternyata si Vani –sorry, namanya emang nama cewe, tapi dya cowo-, dengan rada bingung aku hanya iya-iya aja kalo Vani nelpon.
Udah sejam lebih dengan presentasi tes awal dan ngamplas benda uji, langsunglah aku plus temen-temen satu kelompok ke alat uji. Pas lagi kebagian handle material uji baja karbon rendah dan pas lagi uji kekerasan brinell, ada yang nelpon lagi. Paling si Vani lagi. Aku diemin aja. Terus hp-ku getar lagi. Aku liat. Ternyata nomor g dikenal lagi, 022251xxx gitu. Ni siapa ya? Ya uadah males mikirinnya.
Stelah abis praktikum uji keras yang notabenenya praktikum paling lama dia natara praktikum yang lain, aku baru inget kalo kemaren aku ngedaftar buat jadi asisten MKM. Ternyata yang nomernya 022251xxx itu si dosen yang ngasi tau kalo aku harus dating briefing buat jadi asisten MKM hari itu juga, jam itu juga. Yanh mana aku tau kalo yang nelpon dia. Sambil jalan ke depan gedung Mesin, aku coba nelpon balik nomer itu. Eh aku ketemu Gustavo yang tampangnya lagi kesel-kesel gitu. Ternyata nasibnya sama ama aku. Rupanya gara-gara gak bisa ikutan briefing jadi asisten karena lagi praktikum, aku didepak jadi asisten dan diganti sama orang lain. Gimana gak kesel. Gak bisa ikutan briefingnya bukan karena alasan yang gak jelas, TAPI LAGI PRAKTIKUM! Parah banget!
‘maaf mas, mas emang sangat berpeluang menjadi asisten tetapi gak datang briefing 15 menit yang lalu. Baru aja mas digantiin….’
Wah parah banget, kesel ni. Udah ilang pengalaman jadi asisten, ilang kesempatan nulis di CV pernah jadi asisten terus ilang kesempatan buat dapetin uang jajan! Alasannya norak lagi. LAGI PRAKTIKUM! Emang gak rejeki…
9.01.2008
Pertama
Ini taun ketiga, aku menyambut bulan puasa Ramadhan di Bandung. Gak sperti sewaktu masih sekolah -maksudnya masi sekolah pake seragam, maklum sekarang juga masi sekolah cuma namanya aja yang diganti jadi “kuliah”-, biasanya kita libur saat menyambut bulan puasa dan menikmati tarawih pertama, sahur pertama, dan puasa pertama di rumah, di antara hangatnya sebuah keluarga. Di mana kita hanya tinggal dibangunin pas sahur dan tinggal duduk di meja makan ketika buka.
Namun awal Ramadhan sekarang aku punya sebuah pengalaman yang sangat berkesan. Saat itu hari pertama kita tarawih. Aku –sperti bulan Ramadhan sebelumnya- sholat isya plus tarawih di mesjid LIPI di daerah Sangkuriang, tetangganya Cisitu. Jemaahnya rame seperti biasanya tarawih pertama. Dari awal aku sudah memperhitungkan kalo kejadian “rame” ini, jadi aku datengnya agak awal dari yang laen. Kejadian berkesannya adalah ketika empat rakaat kedua -di mesjid LIPI ini teknis sholatnya empat rakaat empat rakaat dan witir tiga rakaat- sholat tarawih di mesjid yang pembicara ceramahnya biasanya orang yang gelarnya tinggi-tinggi ini. Ketika rakaat ketiga, ketika imam membaca aurat pendek, tiba-tiba suaranya berubah menjadi parau dan sedikit mengisak. Beliau menangis! Aku gak tau surat apa yang dibacanya, kayaknya beliau membaca potongan ayat, tapi yang membuatku merinding adalah momen ketika beliau menangis itu. Imam mengangis ketikamembaca surat-surat-NYA saat sholat berjamaah, baru sekali ini aku alami. Dari dulu, aku hanya mendengar cerita dari guru agama atau ustadz. Aku g menyangka aku bisa berada di peristiwa itu. Sangat berkesan. Mengingatkanku pada kekuasaan-Nya.
Hujan juga terus mengguyur sehabis sholat tarawih. Suaranya saat keras ketika memantul dan menabrak atap-atap. Namun anehnya, aku dan orang-orang yang selesai sholat dan dalam perjalanan pulang tidak seperti diguyur hujan deras. Padahal ketika aku melihat cahaya lampu mobil, aku melihat biasan hujan yang aku pikir saat itu cukup deras. Namun sekali lagi, aku memang basah, namun tidak sekuyub yang aku bayangkan dan sekuyub yang seharusnya hujan bisa tumpahkan airnya ke badanku dan orang-orang ke sekelilingku. Subhanallah.
Namun awal Ramadhan sekarang aku punya sebuah pengalaman yang sangat berkesan. Saat itu hari pertama kita tarawih. Aku –sperti bulan Ramadhan sebelumnya- sholat isya plus tarawih di mesjid LIPI di daerah Sangkuriang, tetangganya Cisitu. Jemaahnya rame seperti biasanya tarawih pertama. Dari awal aku sudah memperhitungkan kalo kejadian “rame” ini, jadi aku datengnya agak awal dari yang laen. Kejadian berkesannya adalah ketika empat rakaat kedua -di mesjid LIPI ini teknis sholatnya empat rakaat empat rakaat dan witir tiga rakaat- sholat tarawih di mesjid yang pembicara ceramahnya biasanya orang yang gelarnya tinggi-tinggi ini. Ketika rakaat ketiga, ketika imam membaca aurat pendek, tiba-tiba suaranya berubah menjadi parau dan sedikit mengisak. Beliau menangis! Aku gak tau surat apa yang dibacanya, kayaknya beliau membaca potongan ayat, tapi yang membuatku merinding adalah momen ketika beliau menangis itu. Imam mengangis ketikamembaca surat-surat-NYA saat sholat berjamaah, baru sekali ini aku alami. Dari dulu, aku hanya mendengar cerita dari guru agama atau ustadz. Aku g menyangka aku bisa berada di peristiwa itu. Sangat berkesan. Mengingatkanku pada kekuasaan-Nya.
Hujan juga terus mengguyur sehabis sholat tarawih. Suaranya saat keras ketika memantul dan menabrak atap-atap. Namun anehnya, aku dan orang-orang yang selesai sholat dan dalam perjalanan pulang tidak seperti diguyur hujan deras. Padahal ketika aku melihat cahaya lampu mobil, aku melihat biasan hujan yang aku pikir saat itu cukup deras. Namun sekali lagi, aku memang basah, namun tidak sekuyub yang aku bayangkan dan sekuyub yang seharusnya hujan bisa tumpahkan airnya ke badanku dan orang-orang ke sekelilingku. Subhanallah.
Langganan:
Postingan (Atom)
