Tampilkan postingan dengan label Betelgeuse. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Betelgeuse. Tampilkan semua postingan

10.17.2008

N.O.W

Saya…

Seperti seorang narapidana yang mencoba buron dari penjara ujian tengah semester yang menumpuk empat malam dalam tujuh malam yang hadir dalam seminggu. Menulis blog adalah salah satu keberhasilan kabur dari tebalnya jeruji-jeruji tumpukan kertas walaupun saya sadar bahwa saya pasti akan tertangkap kembali ke penjara itu. Atau mungkin malah saya yang dengan rela kembali ke penjara itu.

The Last Don, To Kill A Mocking Bird, Life of Pi, Kite Runner, Twilight, Wartawan Independen, dan Iblis Tak Pernah Mati. Novel tersebut sangat menggangu konsentrasi ketika akan mengambil text book layaknya Prosman ala Kalpakjian, atau Metrology Industri ala Taufiq Rochim atau hanya fotokopian slidenya Perawatan Mesin Pak Komang di rak buku yang terlihat lelah memikul monitor yag telah berubah fungsi menjadi televisi. Kayunya melendut. Bebas rasanya jika bisa menghabiskan hari dengan novel-novel itu.

Sedikit tertegun melihat sepatu Nike Classic dengan nike merah dasar putih. Membeli dengan harga yang tidak murah namun hanya terpajang di rak sepatu. Agak sempit! Padahal saya sangat suka dengan desainnya yang sederhana dan bergaya old school.

Bingung kenapa ketika liburan, titipan buku yang seharusnya berjudul Kamus Teknik Empat Bahasa malah tertinggal dan tertukar dengan buku Getaran-nya Rao. Mungkin karena sampul fotokopiannya sama-sama berwarna biru tua. Dengan bijaksana meminta orang rumah mengirimkan buku yang tertukar daripada menjadi mainan sobek-sobekan kertas ponakan-ponakan di rumah. Masalah intinya sebenarnya adalah karena buku tersebut dipakai buat ujian minggu depan.


Monitor rusak! Saya seperti hidup tanpa hiburan…

10.04.2008

Novel (imajinasi) vs Film (Technicolor)

film (dan novel) juga karya seni. Aku mengeluh cuma karena iri. Film membuat novel menjadi tidak relevan. Apa gunanya menulis kalimat indah tentang alam bebas, melukiskan dunia yang panas membara, matahari terbenam yang indah, berisan pegunungan yang berselimut salju, dan debur ombak samudera yang membuat orang terpesona? Apa yang bisa ditulis pengarang tentang cinta dan kecantikan wanita? Apa gunanya menuliskan semua itu kalau kau bisa melihatnya di layar lebar dalam Technicolor? Oh, wanita-wanita misterius dengan bibir merah penuh, mata mereka yang membius. Apa gunanya menuliskan itu, kalau kau bisa melihat mereka tampil tanpa penutup dada dengan pinggul menggoda? Kelihatannya malah lebih bagus daripada kenyataan sebenarnya, apalagi jika dibandingkan dengan penggambaran di buku. Dan bagaimana pengarang bisa menulis tentang kehebatan para pahlawan yang membantai musuh mereka hingga ratusan, mengatasi rintangan dan berbagai godaan, kalau semua pemandangan itubisa dimunculkan di depan matamu, wajah-wajah kesakitan dan tersiksa di layar lebar? Para actor dan kameraman melakukan segalanya tanpa memproses semua itu melalui otak. Satu-satunya yang tidak bisa dilakukan oleh film adalah menembus pikiran para tokohnya, film tidak bisa meniru proses berpikir, menampilkan kompleksitas kehidupan.” Ernest Vail, the Last Don karya Mario Puzo.

Baru saya sadari mengapa terkadang malah kebanyakan seorang pembaca novel yang novelnya tersebut kemudian difilmkan sering merasa kecewa. Merasa film tersebut ada yang kurang, tidak sesuai ekspektasi. Tidak ada luapan emosi yang diharapkan setiap pembaca dalam setiap scene-nya. Karena ketika membaca, imajinasi mengalir menembus batas nyata sebuah logika seorang pembaca. Imajinasi menempatkan pembaca tepat bersebelahan dengan tokoh, merasa emosi tokoh, terkadang malah merasa tokoh tersebut adalah diri si pembaca.

imajinasi lebih berharga daripada ilmu pasti” Albert Einstein,

Seorang yang membaca cerita dewasa lebih terangsang daripada mereka yang menonton film dewasa. Imajinasi bermain di sini. Imajinasi mengambil alih kesadaran akan dunia nyata. Imajinasi yang jadi tuntunan. Novel memang racun. Karena di setiap untai katanya bisa menerbangkan sang pembaca ke dunia yang berbeda, terbang dengan seorang pilot yang bernama imajinasi.

9.28.2008

kite runner

Kemaren saya baru saja menonton film Kite Runner. Film yang membuat saya penasaran dengan bagaimana sebuah rasa bersalah Amir, sebuah kewibawaan dan harga diri tinggi seorang Baba jan, kepolosan Hassan, kebijaksanaan Rahim jan, dan kelicikan seorang Assef. Semuanya terdeskripsikan langsung dalam sebuah film. Bagaimana saya tidak penasaran.

Namun apa yang saya dapat setelah menonton film hasil saduran novel karya Khaled Hosseini yang pernah mendapatkan New York Best Seller ini sangat jauh dari yang saya harapkan. Ketika membaca bukunya kita seperti menerawang. Seperti berada di samping Amir ketika ia merasa dunianya penuh dengan penyesalan, merasa ketakutan seperti Hassan, dan masih banyak lagi situasi yang bisa kita imajinasikan dengan membaca novel tersebut. Namun sangat jauh berbeda dengan filmnya. Bukan saya tidak menghargai hasil karya film sang sutradara. Namun filmnya terasa sangat hambar, ceritanya sangat terasa telah dipotong-potong dengan benang merah yang belum tersambung. Awalnya yang membuat saya sangat penasaran adalah seorang Baba yang dengan wibawanya, harga dirinya, sikapnya yang tegas, dan semuanya yang diceritakan penulis di novelnya. Kita bisa merasa takut hanya dengan membaca deskripsi seorang Baba di novelnya namun sangat berbeda dengan di filmnya. Baba kurang tereksplorasi perannya. Kepolosan dan kebaikan hati Hassan yang sangat terlukiskan di novelnya juga kurang terasa ketika menonton filmnya. Semuanya jauh dari yang saya harapkan. Saya sedikit kecewa.

*semuanya tergantung selera, saya berpendapat film Dark Knight sangat bagus dengan cacat durasi yang terlalu. Lebih bagus dibanding Iron Man. Namun teman-teman saya banyak yang mengatakan bahwa Dark Night tidak da apa apanya dibanding Iron Man. Yah, semuanya tergantung selera, walaupun standar film itu bagus atau tidak, tentu ada di tangan seorang yang expert di bidang ini, ya, saya hanya penikmat.

9.16.2008

Renungan di Pagi HAri

Pernahkan anda merasakan bahwa terkadang harapan orang tua terhadap anaknya telah bermetamorfosis menjadi seperti sebuah paksaan tanpa mereka sadari? Harapan orang tua terhadap anaknya pastinya adalah harapan agar anaknya menjadi minimal lebih baik dari mereka sekarang. Namun walaupun mereka selalu bersikap netral dengan lebih menjunjung tinggi minat ketertarikan seorang anak, selalu terselip sebuah keinginan yang derajatnya lebih dari sebuah harapan. Si anak pasti mengetahui sebenarnya apa yang diinginkan oleh orang tuanya walaupun orang tua terkadang tidak pernah terang-terangan memberitahukan harapannya kepada si anak. Adakalanya si anak seperti memukul beban yang mereka harus asumsikan sebagai salah satu cara untuk membalas segala kebaikan orang tua. Namun terkadang si anak tidak pernah tahu bahwa jalan yang mereka tempuh tidak selalu benar. Jauh di lubuk hati orang tua selalu inginkan anaknya bahagia walaupun si anak tidak menjadi sedikit dari apa yang mereka inginkan. Namun sebagai anak kita terlalu sayang kepada mereka dan memang seharusnya begitu. Dan rasa sayang itu yang membuat kita sering salah mengartikan harapan mereka. Kita sebagai seorang anak yang memetamorfosis harapan mereka menjadi sebuah paksaan.

Saya pernah mengalaminya. Ketika saya dan kedua kakak saya akan menempuh jenjang perguruan tinggi, terlihat jelas dari mata ibu saya bahwa beliau menginginkan salah satu dari kami mengikuti jejaknya, menuruni kemampuannya sehingga dalam keluarga kami darah itu tidak hilang. Ya, ibu saya memiliki background medis, beliau adalah seorang apoteker. Dari mata beliau terpancar keinginkan salah satu anaknya berada di jalur medis seperti beliau. Kakak saya yang paling tua adalah seorang perempuan, namun jelas terlihat bahwa minat dan kemampuannya berada di luar medis. Ia sangat mahir dalam aritmatika dan logika. Namun sebagai seorang anak, kakak saya ingin sekali membahagiakan ibu saya. Namun apa daya, sebuah beasiswa untuk bersekolah di bidang teknik membuatnya bimbang. Ibu saya mendukungnya untuk mengambil beasiswa tersebut walaupun kami tahu itu akan mengubur impiannya kepada kakak saya untuk berada di jalur medis. Kakak saya yang kedua adalah harapan terakhirnya untuk mengikuti jejaknya di bidang medis mengingat sebagai anak laki-laki saya jauh terkesan dari memiliki keinginan menjadi dokter ataupun seorang apoteker. Kakak saya sadar dengan situasinya. Ia pun berjuang untuk mendapatkan pendidikan di bidang medis walaupun dalam hatinya ia ingin menjadi seorang ahli di bidang hukum. Dan tes masuk perguruan tinggi mengirimkan kakak saya yang kedua untuk menempuh waktu ke depannya untuk mengambil keahlian di bidang hukum. Begitu juga saya yang sekarang sedang menuntut ilmu di bidang teknik.

Senyum selalu terpancar di wajahnya apabila kami berada bersama membicarakan akademis. Beliau selalu memberikan dukungan dan doa untuk kami selama menempuh jalur kami masing-masing di bidang akademis. Ada sedikit rasa ganjal yang menyelimuti hati saya. Apakah ini hanya perasaan saya?

9.10.2008

Lentera Hati

Pernahkan anda mendengar lagunya Nuggie yang berjudul Lentera hati? Di lagu Nuggie yang berjudul lentera hati tersebut menceritakan beberapa orang yang pernah hidup dengan tanpa memperdulikan lentera hatinya. Orang-orang yang dikisahkan di lagu itu lambat laun sadar bahwa kebahagian hidup terpancar dan termiliki ketika kita mengikuti apa kata hati kita, kata hati yang diibaratkan sebagi lentera oleh seorang Nuggie. Di video klipnya terlihat bebrapa orang yang memegang sperti papan white board kecil. Bagian depannya bertuliskan suatu kenyataan yang telah ia alami tanpa mengikuti kata hati dan bagian belakangnya adalah keinginan lentera hatinya yang menuntunnya sampai sekarang dan ia bahagia olehnya.

Saya sangat setuju dengan pendapat bahwa hidup akan bahagia apabila kita mengikuti apa kata hati kita. Segalanya akan terasa ringan dan segalanya akan berawal dengan niat yang tulus ikhlas apabila kita mengikuti apa kata hati kita. Karena semua yang ada di hidup kita, baik atau buruk, benar atau salah, pasti bisa kita pilah pilih sebagi insan yang dewasa. Namun mengikuti apa kata hati jauh berbeda dengan mengikuti hawa nafsu. Kata hati lebih kepada tutnan untuk meraih sebuah kebahagian hakiki dengan segala konsekuensinya. Menurut saya, mengikuti kata hati sperti misalnya kita ingin menjadi pelukis, maka dengan senang hati, tulus ikhlas kita akan menuangkan segala usaha, peluh, dan doa agar menjadi seorang pelukis. Kita dapat menerima konskuensi apabila kegagalan datang melanda atau bahkan kesuksesan tak kunjung datang. Namun semua yang telah kita lakukan telah membuat kita bahagia. Jauh berbeda dengan nafsu. Apabila kita telah memperturutkan nafsu menjadi pelukis misalnya, segala car harus dilakukan agar keinginan kita tercapai. Halal ataupun haram tak jadi soal. Kemungkinan stress akibat kegagalan sangat tinggi apabila memperturutkan hawa nafsu. Kita menolak konskuensi yang akan dihadapi dengan mencapai cita-cita.

Namun ada yang sedikit mengganjal ketika saya melihat sebuah scene di video klip Lentera Hati-nya Nuggie, yaitu ketika seorang perempuan yang berpakaian modis layaknya entertainer atau presenter membawa papan whiteboard dengan tulisan “Asli Lulusan Teknik Mesin”. Saya yang sedang berkuliah srata satu di bidang Teknik Mesin merasa sedikit aneh. Saya mengerti dalam scene tersebut mengisahkan bahwa sebenarnya perempuan tersebut BELUM mengikuti lentera hatinya ketika berkuliah di teknik mesin. Ia menjadi seorang entertainer ketika telah mengikuti kata hatinya dan merasa bahagia dengan keadaannya sekarang. Yang ingin saya bahas di sini adalah kecendrungan seorang perempuan untuk (sebenarnya) belum mengikuti kata hatinya apabila berkuliah di bidang yang terkenal dengan jurusan teknik yang hamper di isi oleh kaum Adam tersebut. Seperti aib apabila seorang perempuan untuk berkuliah di teknik mesin. Padahal katanya sekarang sudah emansipasi wanita di mana laki-laki sudah sejajar dengan perempuan (katanya). Namun ternyata emansipasi tersebut menurut saya hanya bahan diskusi tanpa implementasi. Karena memang sepantasnya kesejajaran tersebut tidak ada. Yang ada menurut saya adalah kesejajaran tersebut hanya menimbulkan kontroversi. Lebih bijak apabila hubungan laki-laaki dan perempuan adalah hubungan saling melengkapi, bukan hubungan semuanya harus dibagi sama rata. Hubungan substitusi atau sama rata berbeda dengan hubungan komplemen atau saling mendukung. Lai-laki bukan apa-apa jika tidak ada perempuan dan begitu juga dengan sebaliknya. Suatu fakta mengatakan bahwa kesuksesan seorang laki-laki diraih dengan perempuan sebagi tangan kanannya.

Kembali ke masalah lentera hati dan tentang seorang perempuan pemegang whiteboard. Pengalaman saya, jika perempuan berada di lingkungan bidang laki-laki, peluang untuk menonjol sukses dan berprestasinya lebih besar. Kakak saya adalah sarjana teknik sipil ketika zaman teknik sipil masih pada zaman kelangkaan kaum hawa di jurusan Soekarno tersebut. Sekarang ia mudah untuk mendapat promosi jabatan atau tambahan pengalaman dikarenakan seorang perempuan. Di dunia profesinya ia cepat diorbitkan karena jarangnya perempuan di bidang sipil tepatnya konstruksi.

Sebenarnya yang ingin saya sampaikan adalah apabila kita belum mengikuti kata hati dan sulit untuk mengikuti kata hati, tak ada salahnya untuk mencoba memilih lentera hati yang lain. Jangan membuang nasi yang telah menjadi bubur, alangkah baiknya apabila bubur tersebut kita beri suiran ayam, cakue, dan kacang sehingga menjadi bubur ayam. Dengan kata lain, dengan syukuri apapun yang kita lakukan, apa yang kita dapat, karena dengan mensyukuri maka karama akan mempermudah hidup kita, sehingga lentera hati sebagai awal kebahagian akan terset ulang menjadi sebuah cahaya teduh abadi sebuah lilin yang menerangi kegelapan malam.

9.09.2008

Lecutan Almamater

Masih seperti ancaman kalau jika sarjana nanti masih seperti ini. Ancaman sperti hanya akan selesai menuntut ilmu di Institut gajah hanya membawa ijazah tanpa kemampuan sebagai mana mestinya seorang sarjana. Bayangkan saja, sampai saat ini aku telah mengikuti beberapa mata kuliah yang telah lulus dengan nilai yang cukup memuaskan bagi seseorang yang tidak mengerti esensi kuliah yang telah diambil. Mekatron, aku beruntung telah lulus karena dengan keberuntunganku tersebut telah mengakibatkan ujian-ujian Mekatron mirip bahkan ada soal yang sama dengan pr-pr yang telah diberikan. Aku lulus cukup dengan menguasai pr-pr tersebut. Sekarang aku malu kalau ditanya mengenai mekatron, karena memang dari awalnya kau tidak terlalu mengerti dengan mata kuliah ini. Terkadang nilai yang aku dapat dari mata kuliah ini terasa yang pintar dari pada aku sendiri. Anum aka Analisis Numerik, aku hanya menyontek semua pr yang diberikan dan betapa beruntungnya aku ketika UAS, soal yang tertera di lembar pertanyaan UAS sama persis dengan beberapa halaman saja yang aku pelajari dari buku Chapra. Itupun aku membacanya H-4 UAS, H alias hour bukan hari. Dan beberapa mata kuliah lain yang aku rasa indeks nilainya lebih cerdas dari pada kepintaranku menangkap maksud dari mata kuliah itu.

Aku sadar aku akan terjun ke dunia keprofesian, aku sadar aku belum jadi apa-apa walupun sekrang aku telah tingkat tiga dan beberapa bulan ke depan aku akan Kerja Praktek. Apa aku harus menunggu lecutan almamater ketika terjun ke dunia keprofesian nanti? Apakah aku harus mulai bekerja keras ketika mereka meremehkanku yang merupakan tamatan sebuah institute teknik ternama di negeri ini? Seharusnya itu tidak perlu terjadi. Namun terkadang anggapan bahwa IP tinggi menjadi dosen, IP menengah menjadi pegawai dan IP rendah menjadi pengusaha menggoyahkanku. Sekarang aku termasuk dalam indeks kisaran sebuah pegawai. Seorang sarjana tidak membawa IP telah aku rasakan ketika tes untuk magang di salah satu Oil Service Company. IP hanya untuk formalitas agar lulus administrasi. Lebih bijak kalau mengadili seorang sarjana tamat dengan membawa ilmu yang dengan susah payah ia timba selama bangku perguruan tinggi. Namun hanya IP lah bukti otentik seorang mahasiswa mempertanggungjawabkan akademisnya di depan orang tuanya, di depan instansi yang membeasiswainya, dan di depan orang yang bertanya “Berapa IP lu?”.

Namun (hampir) semua mahasiswa tahu bahwa masih ada sebuah kompetensi yang harus dikuasai selama mengenyam bangku perkuliahan. Softkill. Kemampuan berkomunikasi dan berorganisasi merupakan salah satu syarat mutlak untuk stabil di dunia keprofesian kelak. Sepintar apapun seseorang apabila ia tidak bisa mengkomunikasikan kepintarannya maka semuanya akan terbuang sia-sia. Zaman sekarang adalah zaman membagi ilmu. Bukan zaman merebut ilmu. Hanya dari semua kompetensi tersebut aku masih bertanya-tanya apakah aku sudah berada dalam jalur seorang sarjana yang semestinya? Apakah aku hanya sadar tanpa punya andil untuk bergerak memperbaiki kekurangan yang ada untuk menjadi seorang sarjana? Apa aku harus menunggu untuk dipermalukan agar kemampuanku yang sebenarnya mekar?

Rata-rata sarjana Ganesha menjadi handal dengan rasa malu. Menjadi handal ketika almamternya dipertanyakan. Apakah aku termasuk golongan itu kelak? Bagaimana dengan kalian?

8.31.2008

Nikah Muda?

“ love hurts, but sometimes it’s a good hurt and it feels like I’m alive…”

Sepenggal liriknya Love Hurts yang dinyanyiin Incubus seperti ngingetin kita kalo yang namanya cinta itu emang bikin sakit tapi sakitnya itu adalah aliran listrik tegangan tinggi yang tergroundkan alias setruman yang membuat kita terjaga dan menyadarkan bahwa kita masih hidup. Masalahnya g semua orang ketika di”setrum” oleh cinta malah merasa masi hidup, banyak yang malah memilih untuk menyendiri, depresi, bahkan bunuh diri.
Sebenarnya sekarang aku g akan permasalahin yang namanya cinta maklum aku g terlalu melankolis-romantis-puitis banget. Yang ingin aku floorin di sini, masalah nikah muda ketika masi kuliah atau baru tamat tapi dari sudut pandang seorang cowok.
Aku punya temen (kalo g ada keterangan gendernya, asumsikan gendernya cowo maklum anak Mesin, hahahahaha) yang pengen nikah muda. Katanya kalo kita nikah muda, kita g perlu lagi capek-capek ngecengin cewe atau dengan kata lain udah focus ke satu orang cewe aja. Terus dengan tidak terbuangnya waktu untuk ngecengin cewe, maka kalo pas kuliah kita bisa focus belajar alias IP bisa menanjak kalo tadinya jelek. Langsung banyak kan temen aku yang laen yang nanggepin. Ada yang naggepin:
1. Wah gila juga lu, emang ntar istri ga perlu makan apa, makan CINTA!
2. Justru karena masi muda, emosi masi labil, ntar malah gampang kegoda cewe laen, yang namanya nikah tu bukan maen-maen lho!
3. Gua stuju ma pendapat lu tentang nikah muda, tapi lu inget g kewajiban suami? Nafkahin istrinya oy, untung-untung kalo istri lu ntar ngerti, kalo kagak?
4. Waduh elu, emang ada ya orang tua yang ngelepasin anaknya nikah ama cowo yang belum bisa ngasi nafkah lahir batin bwt anaknya?

Untuk 5, 6, 7, dan sterusnya naggepinnya mirip-mirip lah. Pada banyak yang negative alias kurang setuju atau malah g setuju.
Kalo menurut diri pribadi sih, ya g papa kalo nikah muda asal dua pihak uda setuju. Tapi aku masih condong ke kurang setuju. Masalahnya ya jelas tentang memberi nafkah lahir batin. Bukan menjudge kalo cewe sekarang pada materialistis, tapi lebih berpikir logis kalo yang namanya nafkah bukan hanya cinta dan kasih sayang, tapi juga aspek lain untuk keberlangsungan hidup. Sperti kata Aa’ Gym,
G perlu materi berlimpah tetapi yang diperlukan adalah ketika kkita butuh, yang kita butuhkan ada.
Sekali lagi, bukan menjudge kalo cinta itu bullshit, aku masih percaya kok dengan yang namanya kekuatan cinta. Emang kalo katanya lirik Slank yang bilang miskin punya cinta trus bahagia lebih baik daripada kaya harta tapi sengsara kayak KORUPTOR. Sudut pandang yang aku ambil di sini adalah sudut pandang ketika menghindari seorang suami untuk membiarkan istrinya terlantar apalagi ntar kalo punya anak. Pak Zainal, dosen Kurtek, pernah bilang
Kalo mau bikin usaha alias berwirausaha langsung sehabis tamat kuliah buat anda yang kaya itu g masalah. Tapi buat anda-anda yang menengah apalagi yang miskin lebih baik jangan. Kenapa? Sebuah wirausaha pasti awalnya memiliki gradient negative terlebih dahulu baru nanti pada gradient nol akan trus ke gradient positif. Buat yang kaya, kondisi gradient negative bisa dengan mudah tidak menyentuh nilai fungsi negative dengan memberi konstanta awal alias pundi-pundi uang yang berlebih. Namun buat anda-anda yang menengah atau miskin, nilai fungsi negative yang akan anda alami bisa membuat anda stress. Okelah jika anda ambisius bisa menahan lapar, tapi bagaimana dengan istri anda? Tidak masalah jika istri anda mengerti keadaan anda dan bisa menahan lapar, tapi bagaimana dengan anak-anak anda?
Alangkah lebih indahnya jika kita mendapatkan istri yang mengerti dengan keadaan kita, namun kita juga sebagai calon suami juga g boleh lepas tanggung jawab dengan berpikiran bahwa seorang istri pasti mengerti. Berpikirlah worst case yang akan terjadi dengan tidak melupakan optimisme. Cinta memang indah, cinta memang sakit namun buatlah keindahan cinta sebagai obat rasa sakit cinta.

8.18.2008

Zendagi Migzara

Zendagi Migzara,

Aku terlalu egois untuk seorang manusia. Aku terlalu curiga dan mengeluh. Di saat aku memiliki sebuah jadwal untuk kencan dengan gadis impianku, aku ingin semua hari ke depan dihapus seakan besok adalah hari yang aku idam-idamkan. Ketika aku gagal pada saat ujian dan mengetahui kalau nilaiku tidak layak untuk ku lihat, yang ku inginkan hanya memutarbalikkan waktu kembali ke saat aku akan ujian. Namun sewaktu aku berkumpul dan bercengkrama riang dengan keluargaku, aku tak ingin waktu-waktu indahku itu terenggut dengan bergelindingnya roda waktu.

Aku terlalu egois.

Terlalu egois seakan semua perhatian harus tertuju padaku. Terlalu egois seakan rasa sayang bisa diartikan rasa benci. Terlalu egois seakan seorang teman bisa dianggap sebagai seorang lawan.

Zendagi migzara

Sebenarnya aku sadar, yang selalu konstan di dunia hanyalah perubahan, yang selalu berputar hanyalah roda waktu. Namun terkadang dalam kesadaranku semua sifat egoisku mengendap seperti makanan yang berada di ujung lidah dan hanya beberapa milimeter lagi akan ku muntahkan. Kehidupanku hanya cerita berliku yang terlalu lurus untuk seorang pembalap yang menginginkan kemampuannya bertambah di lintasan berkelok. Namun cukup menanjak bagi seorang pelari 100 meter yang berambisi memecahkan rekor dunia. Aku kadang curiga dengan hidupku yang terkadang berjalan sesuai dengan rencana yang telah ku pahat di buku catatan hitam yang tak berlembar satu kertas pun. Namun terkadang aku mengeluh ketika rencanaku berantakan hanya karena kehilangan gerakan satu detik dari arloji yang selalu terikat longgar ditangan kiriku.

Apa kecurigaan dan keluhanku wajar untuk seorang manusia?

Apa kecurigaan dan keluhanku tidak wajar?

Aku bisa jadi seorang Afghanistan yang ceroboh, seorang Cina yang perhitungan, seorang Rusia yang dingin, atau seorang Amerika yang sok berkuasa bahkan aku bisa tetap menjadi seorang Indonesia yang serakah

Zendagi migzara, life must go on, kehidupan harus terus berjalan

John Mayer- Stop This Train

No I'm not color blind

I know the world is black and white

I try to keep an open mind

But I just can't sleep on this tonight

Stop this train

I want to get off

And go home again

I can't take the speed it's moving in

I know I can't

But honestly, won't someone stop this train?

Don't know how else to say it

I don't want to see my parents go

One generation's length away

From fighting life out on my own

Stop this train

I want to get off

And go home again

I can't take the speed it's moving in

I know I can't

But honestly, won't someone stop this train?

So scared of getting older

I'm only good at being young

So I play the numbers game

To find a way to say that life has just begun

Had a talk with my old man

Said "help me understand"

He said "turn sixty-eight"

"You'll renegotitate"

"Don't stop this train

Don't for a minute change the place you're in

And don't think I couldn't ever understand

I tried my hand

John, honestly we'll never stop this train"

Once in a while, when it's good

It'll feel like it should

And they're all still around

And you're still safe and sound

And you don't miss a thing

Til you cry when you're driving away in the dark

Singing

Stop this train

I want to get off

And go home again

I can't take the speed it's moving in

I know I can't

Cause now I see I'll never stop this train